10 Dampak Buruk Makanan Kaleng untuk Kesehatan

Saat ini banyak orang yang lebih memilih makanan yang praktis, salah satunya adalah makanan kaleng. Tidak dipungkiri lagi bahwa makanan instan merupakan makanan yang paling dicari banyak orang. Salah satu makanan instan yang sering menjadi stok makanan di rumah adalah makanan kaleng. Mulai dari buah yang dikemas dalam kaleng, ikan, dan jenis makanan lainnya.

10 Dampak Buruk Makanan Kaleng untuk Kesehatan
10 Dampak Buruk Makanan Kaleng untuk Kesehatan
jasa backlink pbn

Saat ini banyak orang yang lebih memilih makanan yang praktis, salah satunya adalah makanan kaleng. Tidak dipungkiri lagi bahwa makanan instan merupakan makanan yang paling dicari banyak orang. Salah satu makanan instan yang sering menjadi stok makanan di rumah adalah makanan kaleng. Mulai dari buah yang dikemas dalam kaleng, ikan, dan jenis makanan lainnya.

Namun, beberapa penelitian membuktikan bahaya makanan kaleng untuk kesehatan. Dilansir dari berbagai sumber, berikut 10 dampak buruk makanan kaleng untuk kesehatan.

1. Gangguan Pencernaan

Bahaya makanan kaleng yang pertama adalah meningkatkan risiko terkena gangguan pencernaan. Saat makanan disimpan dalam kemasan kaleng dalam jangka waktu yang lama, makanan tersebut tercemar zat kimia SN atau stanum.

Sebuah penelitian ilmiah World Journal of Gastroenterology menyatakan bahwa, paparan zat kimia stanum yang mengendap dalam usus akan menimbulkan gangguan pencernaan seperti mual ingin muntah, dan rasa sakit pada perut.

2. Penyebab Kanker

Klaim bahwa makanan yang dikemas dalam kaleng tidak terpapar bakteri dan bisa menjadikan makanan bisa tahan lama bisa dibilang salah. Karena setiap makanan kaleng pasti menggunakan bahan pengawet biasanya yang membedakan hanya kadar setiap kemasan saja. Bahan pengawet makanan yang dikonsumsi dalam jangka panjang dapat memicu pertumbuhan sel kanker.

Melansir BMJ Journals, terdapat peningkatan yang signifikan terkait konsumsi makanan olahan terhadap risiko kanker, terutama kanker payudara. Riset ini menambah bukti jika terdapat hubungan yang kuat antara pola makan buruk dengan kelebihan berat badan dan risiko terserang kanker.

Baca Juga: Hindari! Ini 8 Makanan Penyebab Kanker

3. Alergi

Bahaya makanan kaleng selanjutnya adalah dapat menyebabkan alergi. Bahan Tambahan Makanan atau BTM kerap ditambahkan pada makanan kemasan kaleng. Tujuannya untuk menambah rasa atau mewarnai makanan agar lebih menggoda selera.

Perlu kamu ketahui, BTM bukan nutrisi alami yang dibutuhkan tubuh. Sehingga pada seseorang yang reaktif dengan bahan kimia tersebut akan mengalami beberapa gejala alergi. Seperti gatal-gatal, bengkak pada bagian tubuh tertentu, ruam, sampai gangguan pernapasan.

4. Gangguan Saluran Kemih

Bahan pemanis pada makanan kaleng biasanya sering sekali ditemukan pada jenis buah, atau jamur kalengan. Jenis pemanis yang biasa digunakan adalah siklamat. Siklamat yang tidak terurai dalam proses detoksifikasi alami tubuh akan menyebabkan gangguan saluran kemih.

Saat kamu terkena ISK, bakteri bisa naik dan masuk ke ginjal. Alhasil, kondisi ini membuat rentan terkena infeksi ginjal (pyelonephritis) yang ditandai dengan nyeri punggung, mual, demam, dan menggigil.

5. Diabetes

Bahaya makanan kaleng juga dapat menyebabkan kamu terkena diabetes. Sewajarnya, material kaleng pasti akan berkarat jika disimpan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Maka dari itu, biasanya produsen penghasil makanan kaleng menambahkan zat anti karat atau disebut Bisphenol A.

Kandungan ini menurut penelitian Harvard Public School Of Health menyimpulkan tentang bahaya Bisphenol. Konsumsi Bisphenol A secara terus menerus akan menyebabkan penghambatan insulin yang bisa mengontrol gula darah dalam tubuh yang mengakibatkan diabetes.

6. Kurang Nutrisi

Pada makanan kemasan pasti kamu sering menemukan jumlah nutrisi yang terkandung dalam satu kemasan tersebut. Tahukah kamu? Ternyata hasil penelitian American Journal of Preventive Medicine menyatakan bahwa, kandungan nutrisi yang tertulis di kemasan makanan kaleng tidak sama dengan isi makanan yang diteliti. Jadi, bisa saja kamu merasa kenyang saat makan makanan kaleng tapi kecukupan nutrisi harian belum terpenuhi.

7. Keracunan

Makanan kaleng yang dibiarkan berbulan-bulan akan menjadi sarang bakteri berbahaya yang bernama Clostridium. Bakteri ini menghasilkan spora, yaitu struktur reproduksi yang mampu bertahan dalam tubuh.

Spora ini menghasilkan racun yang bila dimakan dapat menyebabkan keracunan makanan parah bahkan jika dikonsumsi dalam jumlah kecil. Efek yang paling ringan dari kontaminasi bakteri ini adalah rasa gatal pada tenggorokan. Apabila terus dikonsumsi akan mengakibatkan keracunan seperti pusing, buang air terus menerus, mual, sampai kematian.

8. Kandungan Garam Tinggi

Bahaya makanan kaleng selanjutnya adalah mengandung garam yang terlalu tinggi. Garam dalam bentuk natrium pada makanan kaleng biasanya terdapat dalam kadar yang tinggi karena juga berfungsi untuk menjaga kualitas makanan kaleng.

Terlalu banyak mengonsumsi garam atau natrium dapat menyebabkan tekanan darah kamu naik dan keseimbangan elektrolit dalam tubuh terganggu. Tak hanya itu, studi Baycrest bahkan menunjukkan bahwa orang dewasa yang yang mengonsumsi terlalu banyak garam dan tidak berolahraga, berisiko lebih besar dalam mengalami penurunan kognitif.

Baca Juga: Kurangi Konsumsi Garam dan Rasakan 5 Manfaat Ini

9. Mengganggu Kerja Hormon

Makanan kaleng umumnya mengandung natrium fosfat di dalamnya agar lebih awet dan menambah rasa. Namun, jika kamu mengonsumsi makanan kaleng secara berlebihan, kandungan ini tentu dapat mengganggu regulasi hormon. Pada akhirnya, ini dapat mengakibatkan kerusakan jaringan, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan ginjal, dan pengeroposan tulang.

10. Obesitas

Bahaya makanan kaleng selanjutnya adalah meningkatkan risiko terkena obesitas. Mengonsumsi makanan kaleng secara terus menerus dapat menyebabkan obesitas karena kandungan kalori dan gula yang tinggi.

Inilah yang menjadi penyebab utama naiknya bobot badan secara cepat walaupun dalam waktu satu bulan saja. Seseorang yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas berpotensi mengalami pembesaran sisi kiri jantung (hipertrofi ventrikel kiri/LVH).

Dampak dari obesitas ini dapat terjadi karena adanya peningkatan tekanan darah dan ketegangan pada jantung. Beberapa ahli melaporkan bahwa kondisi ini merupakan faktor risiko penyakit jantung dan stroke, baik pada anak-anak maupun orang dewasa.