6 Cara Memenuhi Gizi Anak

Untuk mengatasi kasus gizi buruk anak di Indonesia, sekaligus memenuhi kebutuhan gizi balita, pemerintah melalui Kementerian PPN/Bappenas RI menerbitkan Kajian Sektor Kesehatan mengenai Pembangunan Gizi di Indonesia.

6 Cara Memenuhi Gizi Anak
6 Cara Memenuhi Gizi Anak
jasa backlink pbn

Untuk mengatasi kasus gizi buruk anak di Indonesia, sekaligus memenuhi kebutuhan gizi balita, pemerintah melalui Kementerian PPN/Bappenas RI menerbitkan Kajian Sektor Kesehatan mengenai Pembangunan Gizi di Indonesia.

Dilansir dari Sehatq.com, berikut 6 cara memenuhi gizi anak.

1. Pemberian ASI Eksklusif

Air susu ibu (ASI) berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi balita. Sebab, ASI merupakan sumber nutrisi dengan kandungan gizi yang lengkap dan seimbang. Komposisinya pun ideal bagi tumbuh kembang bayi. Selain mencukupi kebutuhan gizi Si Kecil, pemberian ASI secara eksklusif pun mampu menumbuhkan ikatan kasih sayang antara ibu dan anak.

Melalui pemberian ASI eksklusif, anak hanya menerima ASI, tanpa asupan lainnya, entah itu makanan padat, atau air sekalipun. Meski demikian, vitamin, suplemen, maupun obat-obatan tertentu dapat diberikan atas anjuran dokter, sesuai indikasi.

Pemberian ASI eksklusif dilakukan saat bayi lahir, hingga berusia 4-6 bulan. Selanjutnya, bayi direkomendasikan tetap memperoleh ASI, disertai makanan pendamping ASI (MPASI) mulai dari 6 bulan.

2. Pemberian MPASI

Makanan pendamping ASI alias MPASI adalah makanan maupun minuman bergizi yang diberikan pada balita berusia 6-24 bulan, untuk memenuhi kebutuhan gizi. Ketika berusia 6 bulan, sistem pencernaan bayi sudah lebih siap menerima asupan selain ASI. Dalam hal ini, MPASI.

Pemberian MPASI pun sebaiknya tidak diberikan pada balita terlalu dini. Sebab, bayi yang terlalu awal mendapatkan makanan pendamping ASI ini, berisiko mengalami penyumbatan saluran cerna. Kondisi ini dapat berujung pada tindakan pembedahan.

Berikut ini pedoman pemberian MPASI berdasarkan usia balita dan jenis makanannya.

  • 6-8 bulan
  • ASI: 5 kali sehari atau sesuai keinginan bayi
  • Berikan makanan bergizi lengkap mengandung karbohidrat, protein nabati, protein hewani. Jangan beri sayuran terlalu banyak cukup perkenalkan sedikit saja. Sesuaikan tekstur
  • Buah: pisang, apel, dan pepaya dikerok atau dibuat menjadi puree. Berikan sebanyak sekitar 60-120 ml/hari atau secukupnya.
  • 8-10 bulan
  • ASI: disesuaikan dengan keinginan bayi
  • Buah: pisang, apel, dan pepaya dikerok atau dibuat menjadi puree. Berikan sebanyak 60-120 ml/hari tanpa gula. pakai cangkir atau gelas. Sayuran: mulailah memberikan sayuran yang lebih bervariasi, dengan tekstur kasar, sebanyak ½ gelas atau sesuai kemampuan bayi. Namun, tetap tidak terlalu banyak.
  • Daging, telur, ikan: kamu bisa menghaluskan daging atau ikan dengan blender, sebanyak 2-4 sendok makan, maupun kuning telur, tempe, tahu, biji-bijian, maupun kacang-kacangan, yang dimasak sampai lunak, untuk diberikan pada bayi.
  • 10-12 bulan
  • ASI: disesuaikan dengan keinginan bayi.
  • Buah: pisang, apel, dan pepaya dikerok atau dibuat menjadi puree. Berikan sebanyak 60-120 ml/hari tanpa gula. Serealia: 120 ml per porsi atau sesuai kemampuan bayi, sebanyak 3 kali/hari
  • Sayuran: tingkatkan variasi dan porsinya sesuai selera Si Kecil
  • Daging, telur, ikan: kamu bisa memilih cincangan maupun potongan tipis daging serta ikan sebanyak 2-4 sendok makan, serta telur, tempe, tahu, biji-bijian, maupun kacang-kacangan, yang dimasak sampai lunak, untuk diberikan pada bayi.

Baca Juga: Pahami 6 Manfaat ASI Eksklusif Bagi Ibu dan Bayi

3. Memberi Variasi Makanan Bergizi Seimbang

Setelah bayi berusia 1 tahun, pola makan anak mengalami perubahan kembali. Menu makanannya mulai beralih ke makanan yang biasa dikonsumsi keluarga. Pengenalan berbagai macam jenis makanan sangat penting. Maka dari itu, cobalah memberi makanan bergizi seimbang pada balita yang terdiri dari sayur-mayur dan buah-buahan, lauk pauk dari sumber protein hewani dan nabati, serta makanan pokok sebagai sumber energi.

Tambahkan pula porsinya secara bertahap, tapi tidak berlebihan. Hal ini dapat membantu mengurangi risiko terjadinya masalah gizi balita. Di sela-sela waktu makan, kamu juga bisa memberi anak balita camilan yang sehat untuk mencegahnya makan berlebihan atau mengonsumsi asupan yang tidak sehat. Pastikan status gizi balita dalam keadaan baik atau normal.

4. Mencuci Tangan dan Menjaga Kebersihan

Buruknya kebersihan diri bisa memicu diare maupun penyakit lain disertai muntah, yang akhirnya membuat anak kekurangan gizi. Sebuah penelitian dilakukan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, untuk menganalisis hubungan pemberian makan tahap awal pada balita, dengan kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun.

Penelitian ini pun mendapati adanyahubungan antara kebiasaan para ibu dalam mencuci tangan, dengan kejadian stunting di wilayah setempat. Stunting merupakan salah satu persoalan gizi, akibat pemberian makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak. Akibatnya, anak mengalami gangguan tumbuh kembang.

Faktor penyebab stunting secara tidak langsung adalah kebersihan diri ibu yang buruk, yang berujung terhadap meningkatnya risiko penyakit infeksi pada balita. Kebiasaan ibu yang tidak mencuci tangan sebelum menyusui, menyiapkan makanan, maupun menyuapi balita, dapat menimbulkan kontaminasi bakteri pada makanan.

Jika masuk ke dalam tubuh, bakteri ini dapat mengakibatkan penyakit infeksi pada balita, yang menimbulkan mual, muntah, serta penurunan nafsu makan, sehingga anak menjadi kurang gizi. Perilaku buruk ini harus segera dihilangkan. Oleh karena itu, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, penting dilakukan demi mencegah masuknya bakteri ke tubuh.

Baca Juga: 4 Manfaat Mencuci Tangan dengan Sabun

5. Pemberian Vitamin A, Zinc, Serta Mikronutrien Lain

Kasus diare pada balita berkaitan erat dengan asupan zat gizi mikro, yaitu vitamin dan mineral. Vitamin A, zinc, dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) berperan meningkatkan fungsi sistem pertahanan tubuh di saluran pencernaan, terutama pada balita. Vitamin A dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit mata anak.

Sementara itu, zinc dapat membantu pemulihan balita yang mengalami diare akut, dengan mengurangi frekuensi dan durasi diare. Mengonsumsi Omega-3 sebagai PUFA pun bisa mengurangi bakteri E.coli dan Bacteroides spp pada usus, yang akhirnya meningkatkan kesembuhan pasien diare.

Sebuah penelitian yang dilakukan di suatu puskesmas membuktikan, sebanyak 76% pasien diare, ternyata kekurangan asupan vitamin A. Lebih lanjut, tercatat 54,4% responden dengan keluhan diare, mengalami kekurangan zinc. Temuan serupa juga muncul pada para responden yang kekurangan PUFA.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemberian vitamin A, zinc, serta PUFA sebagai mikronutrien bagi balita, dibutuhkan untuk mengurangi risiko diare yang mengancam kecukupan gizi.

6. Pemberian Obat Cacing

Pemberian vitamin A pada balita perlu disertai dengan obat cacing. Tujuannya, agar penyerapan zat gizi pada balita dapat sempurna. Obat cacing diberikan pada balita berusia di atas satu tahun, untuk membasmi cacing di dalam tubuh, sekaligus menekan potensi stunting.

Dosis pemberian obat cacing bisa berbeda-beda sesuai umur anak. Balita berusia 1-2 tahun mendapat setengah tablet, sedangkan di atas 2 tahun, mengonsumsi satu tablet. Selanjutnya, pemberian obat cacing kembali dilakukan 6 bulan kemudian.