6 Efek Samping Antibiotik yang Perlu Diketahui

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Jika penggunaannya tidak tepat, beragam efek samping antibiotik bisa timbul. Mulai dari efek samping yang ringan hingga yang berbahaya dan berdampak besar, seperti membuat bakteri menjadi kebal terhadap obat.

6 Efek Samping Antibiotik yang Perlu Diketahui
6 Efek Samping Antibiotik yang Perlu Diketahui
jasa backlink pbn

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Jika penggunaannya tidak tepat, beragam efek samping antibiotik bisa timbul. Mulai dari efek samping yang ringan hingga yang berbahaya dan berdampak besar, seperti membuat bakteri menjadi kebal terhadap obat.

Setiap obat memiliki kegunaan dan efek sampingnya masing-masing, tak terkecuali antibiotik. Efek samping antibiotik merupakan reaksi yang muncul secara tidak terduga saat seseorang mengurangi atau menambah dosis, mengonsumsi antibiotik bersamaan dengan obat tertentu, atau menggunakannya dalam jangka waktu lama.

Meski demikian, terkadang efek samping antibiotik juga dapat muncul pada penggunaan awal atau penggunaan dosis kecil.

Antibiotik memiliki banyak tipe dan golongan. Secara umum, obat antibiotik bekerja dengan cara membunuh kuman atau menghambat pertumbuhan kuman di dalam tubuh.

Masing-masing tipe dan golongan antibiotik dapat menimbulkan efek samping yang berbeda pada setiap orang. Efek samping yang muncul juga bisa bersifat ringan hingga berat. Dilansir dari Alodokter.com, berikut 6 efek samping anti biotik yang perlu diketahui.

1. Gangguan Pencernaan

Gangguan pencernaan merupakan efek samping antibiotik yang paling sering terjadi. Gejala gangguan saluran cerna akibat penggunaan antibiotik meliputi diare, mual, muntah, dan kram perut. Efek samping ini lebih sering terjadi pada penggunaan antibiotik golongan penisilin, cephalosporin, dan fluoroquinolone.

2. Reaksi Alergi

Reaksi alergi antibiotik terbilang jarang terjadi. Namun, ketika muncul, reaksi alergi antibiotik biasanya berat dan berbahaya. Sebagian orang yang merasakan reaksi alergi antibiotik dapat mengalami komplikasi berat berupa syok anafilaktik dan sindrom Stevens-Johnson.

Baca Juga: Ampuh dan Mudah Diterapkan, Ini 5 Cara Mengatasi Alergi Debu

3. Infeksi Jamur

Penggunaan antibiotik dapat mengurangi jumlah bakteri baik di dalam tubuh. Ketika jumlah bakteri baik tersebut berkurang, maka jamur akan mudah tumbuh. Penyakit infeksi jamur ini biasanya muncul berupa sariawan di mulut, yang disebut kandidiasis oral.

Pada wanita, efek samping antibiotik bisa berupa infeksi jamur vagina yang menimbulkan keluhan gatal dan perih pada vagina, nyeri saat berhubungan intim, anyang-anyangan, hingga keputihan dengan bau tidak sedap.

4. Sensitif Terhadap Cahaya

Penggunaan antibiotik tertentu, terutama golongan tetrasiklin, dapat menyebabkan kamu lebih sensitif terhadap cahaya, termasuk cahaya lampu dan sinar matahari. Akibatnya, semua cahaya yang kamu lihat akan terasa menyilaukan dan membuat mata tidak nyaman.

Baca Juga: 6 Manfaat Matahari Pagi bagi Kesehatan

5. Perubahan Warna Gigi

Beberapa jenis antibiotik, seperti tetrasiklin dan doksisiklin, juga dapat menyebabkan efek samping berupa perubahan warna pada gigi yang bersifat permanen, jika diberikan pada anak-anak berusia di bawah 8 tahun.

6. Resistensi Antibiotik

Penggunaan antibiotik yang terlalu sering atau tidak sesuai dosisnya dapat menyebabkan kuman mengalami resistensi atau kekebalan. Hal ini merupakan salah satu efek samping antibiotik yang paling mengkhawatirkan.

Ketika kuman yang menyebabkan infeksi sudah kebal terhadap antibiotik, maka penyakit infeksi bakteri akan susah disembuhkan. Karena kekebalannya, kuman juga berisiko tinggi menimbulkan infeksi berat, seperti sepsis.

Selain beberapa efek samping di atas, antibiotik juga dapat menimbulkan efek samping berikut ini:

  • Kerusakan jaringan ikat, seperti tendonitis dan putusnya tendon (umumnya akibat penggunaan antibiotik jenis fluoroquinolone, cephalosporin, sulfonamide, dan azythromycin)
  • Sakit kepala
  • Kejang
  • Gangguan jantung, seperti detak jantung tidak teratur dan tekanan darah rendah
  • Kelainan darah, misalnya leukopenia (menurunnya jumlah sel darah putih) atau trombositopenia (jumlah trombosit yang terlalu rendah)

Guna mengurangi risiko efek samping antibiotik, pastikan kamu mengonsumsi antibiotik sesuai resep hingga habis, dan hindari membeli antibiotik secara bebas tanpa resep atau pengawasan dokter.

Konsumsi antibiotik pun tidak boleh dihentikan secara mendadak walau gejala infeksi yang dirasakan sudah hilang. Jika obat antibiotik tidak dihabiskan, maka bakteri penyebab infeksi dapat menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut.

Hindari pula mengonsumsi antibiotik yang diresepkan untuk orang lain dan jangan memberikan antibiotik kamu kepada orang lain tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter.

Secara umum, antibiotik cukup aman digunakan, asalkan mematuhi petunjuk penggunaan dari dokter. Namun, jika kamu merasakan efek samping antibiotik setelah menggunakannya, berkonsultasilah kembali dengan dokter, terlebih bila efek samping antibiotik yang dirasakan cukup parah dan tidak kunjung reda.