7 Dampak Negatif Gula Halus bagi Kesehatan

Setiap orang pasti suka dengan manisnya rasa gula. Godaan untuk tidak memakan eskrim, kue, permen, soda, dan makanan manis lainnya juga cukup berat. Akhirnya, tanpa disadari, gula dapat mudah masuk ke dalam tubuh kamu dalam jumlah berlebih dalam bentuk makanan atau minuman.

7 Dampak Negatif Gula Halus bagi Kesehatan
7 Dampak Negatif Gula Halus bagi Kesehatan
jasa backlink pbn

Setiap orang pasti suka dengan manisnya rasa gula. Godaan untuk tidak memakan eskrim, kue, permen, soda, dan makanan manis lainnya juga cukup berat. Akhirnya, tanpa disadari, gula dapat mudah masuk ke dalam tubuh kamu dalam jumlah berlebih dalam bentuk makanan atau minuman.

Batas asupan gula bagi orang dewasa yang disarankan adalah 50 gram atau setara dengan dua belas sendok teh gula per orang per hari. Sedangkan American Heart Association (AHA) merekomendasikan anak usia 2 sampai 18 tahun untuk tidak mengonsumsi lebih dari enam sendok teh gula dalam menu makanannya sehari-hari. Rekomendasi tersebut tidak mencakup gula yang dijumpai secara alami pada susu, buah atau sayuran.

Dilansir dari Hellosehat.com, berikut 7 dampak negatif gula halus bagi kesehatan.

1. Selalu Ingin Makan

Selain dapat membebani hati, kelebihan fruktosa pada tubuh juga dapat mengacaukan sistem metabolisme tubuh dengan mematikan sistem pengendali nafsu makan kamu. Kondisi tersebut memicu kegagalan tubuh dalam merangsang produksi hormon insulin, meningkatkan produksi hormon ghrelin yang berperan dalam menimbulkan rasa lapar, namun menurunkan produksi hormon leptin yang berperan dalam menimbulkan rasa kenyang.

Hal ini dibuktikan pada studi yang menunjukkan bahwa konsumsi berlebihan gula langsung/fruktosa dapat meningkatkan produksi ghrelin, dan mengurangi sensitivitas tubuh pada hormon insulin. Hal tersebutlah yang membuat kamu akan selalu lapar meskipun telah makan banyak.

Baca Juga: Wanita Wajib Baca! 10 Cara Mengatasi Gejala Menopause

2. Lemak Pada Perut

Semakin banyak gula yang kamu konsumsi, maka akan semakin meningkatkan risiko tertimbunnya lemak pada lingkar pinggang dan perut kamu. Hal tersebut juga dapat meningkatkan risiko terjadinya obesitas.

3. Karies Gigi

Karies gigi terjadi ketika bakteri yang hidup di mulut mencerna sisa karbohidrat dari makanan yang kamu konsumsi, entah itu merupakan sisa dari gula pada donat yang kamu konsumsi atau lainnya. Bakteri tersebut akan membusuk dan memproduksi asam yang dapat menghancurkan enamel/dentin gigi.

4. Kerusakan Hati

Gula yang masuk ke aliran darah dari saluran pencernaan akan dipecah menjadi glukosa dan fruktosa. Sayangnya, fruktosa tidak diproduksi oleh tubuh dalam jumlah yang signifikan -karena memang tidak terlalu dibutuhkan oleh tubuh. Sehingga, konsumsi gula berlebih dapat membuat tubuh kelebihan fruktosa yang dapat membebani hati dan menyebabkan perlemakkan hati. Hal tersebutlah yang dapat memicu terjadinya komplikasi kesehatan.

5. Penyakit Jantung

Meskipun kaitan antara konsumsi gula berlebih dengan penyakit jantung belum begitu jelas. Namun, studi dalam Journal of American Heart Association tahun 2013 menyebutkan bahwa konsumsi gula berlebih dapat membuat terganggunya cara kerja organ jantung dalam memompa darah.

Studi lainnya juga menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis berlebih dapat meningkatkan tekanan darah dan merangsang hati untuk membuang lemak ke aliran darah. Kedua hal tersebutlah yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Baca Juga: Jaga Kesehatan Jantung dengan 5 Gaya Hidup Sehat yang Mudah Dilakukan Ini

6. Disfungsi Metabolik

Konsumsi gula berlebih dapat menyebabkan sindrom metabolik klasik, seperti berat badan, obesitas abdominal, penurunan HDL, peningkatan LDL, gula darah tinggi, peningkatan trigliserida, dan tekanan darah tinggi.

7. Resistensi Hormon Insulin

Semakin banyak konsumsi gula kamu, maka akan semakin banyak produksi hormon insulin pada tubuh kamu. Hormon insulin berperan dalam membantu mengkonversi makanan menjadi energi. Namun, ketika kadar insulin tubuh dan kadar gula tinggi, maka akan membuat sensitivitas produksi hormon berkurang dan membuat glukosa menumpuk dalam darah. Gejala yang dialami oleh kondisi ini, yang disebut dengan resistensi insulin, adalah kelelahan, kelaparan, kabut otak, dan tekanan darah tinggi.