Hajar Abulfazl - Hijaber Yang Menjadi Legenda Sepakbola Wanita Afghanistan

Hajar Abulfazl - Hijaber Yang Menjadi Legenda Sepakbola Wanita Afghanistan. Ternyata hijaber tak hanya menjadi influencer di Instagram, namun menjadi mitos di sebuah negara

Hajar Abulfazl - Hijaber Yang Menjadi Legenda Sepakbola Wanita Afghanistan
Hajar Abulfazl - Hijaber Yang Menjadi Legenda Sepakbola Wanita Afghanistan
jasa backlink pbn

MPOTIMES - Hajar Abulfazl - Hijaber Yang Menjadi Legenda Sepakbola Wanita Afghanistan. Ternyata hijaber tak hanya menjadi influencer di Instagram, namun menjadi mitos di sebuah negara yang 70 persen dikuasai Taliban.

Pada 2007, perempuan-perempuan muda negara Afghanistan datang ke stadion di kota Kabul dengan peralatan lengkap sepak bola baru. Momen tersebut menjadi laga perdana mereka setelah latihan selama berminggu-minggu.

Salah satu perempuan dalam tim tersebut adalah Hajar Abulfazl. Di momen itu, tim gadis muda Afghanistan berhadapan dengan tim wanita Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF).

Dilansir dari Bustle, Hajar Abulfazl yang pada waktu itu berumur 13 tahun termasuk generasi pertama pemain sepakbola perempuan Afghanistan, pasca tumbangnya Kelompok Taliban tahun 2001.

"Kami memenangkan laga menghadapi tim perempuan ISAF dengan skor 5-0. Namun, yang paling penting, kami telah memulai sesuatu yang baru di negara ini," ujar Hajar Abulfazl.

Meski Taliban tak lagi berkuasa, gadis-gadis muda di negara Afghanistan mengalami kesulitan untuk menampilkan ekspresinya melalui olahraga.

Hajar Abulfazl - Hijaber Yang Menjadi Legenda Sepakbola Wanita Afghanistan (Twitter)

Norma budaya dan agama di negara ini menjadikan perempuan untuk tidak keluar dari pakem tradisional, seperti menjadi ibu rumah tangga daripada menjadi atlet sepakbola.

Namun, Hajar Abufzal adalah salah satu perempuan yang mencoba melawan budaya konservatif di negara tersebut. Dia bertekad melakukan impiannya untuk bermain sepak bola.

"Saya berumur 14 tahun saat kali pertama mendaftar ke tim wanita di sekolah, dengan motivasi dan dukungan dari guru yang melihat ketertarikan saya di dunia olahraga," kata Hajar.

Hajar Abulfazl Mendapat Dukungan Penuh Keluarga Dalam Bermain Sepakbola

"Saya perlu keberanian besar untuk berbicara dengan ayah saya mengenai minat saya. Namun saat saya akhirnya menyatakan kepada beliau bahwa saya ingin bermain olahraga sepakbola, beliau sangat bahagia," ucap Hajar ketika memberikan penjelasan.

Hajar bersyukur mempunyai orang-orang di lingkaran terdekat yang memberikan dukungan atas minatnya, serta aktivitas untuk memainkan olahraga sepakbola yang masih dinilai sebuah pantangan di negara Afghanistan.

Perempuan berumur 27 tahun tersebut berasal dari sebuah keluarga besar. Hajar merupakan anak ketiga dari total 12 bersaudara yang terdiri dari delapan perempuan dan empat laki-laki. Namun, keluarga besar Hajar cukup memberikan support atas impiannya menjadi pemain sepakbola.

"Saya cukup beruntung mempunyai saudara kandung dan orang tua yang memberikan dukungan penuh, memotivasi, serta memberikan perlindungan kepada saya, tak terkecuali aktivitas saya dalam bermain sepakbola," kata Hajar.

Hajar Abulfazl - Hijaber Yang Menjadi Legenda Sepakbola Wanita Afghanistan (USA Today)

Hajar menjelaskan, di tengah budaya tabu Afghanistan, ibu dan ayah memberikan izin untuk memainkan sepakbola dan berbicara di depan media. Tujuannya, supaya Hajar menjadi contoh positif untuk wanita-wanita lain dan orang tua mereka.

"Dia [bapak] memegangi tangan saya, setelah itu kami mengunjungi toko olahraga untuk membeli peralatan sepakbola. 

Di toko, dia menjelaskan kepada bos toko untuk memberikan yang terbaik dari semua perlengkapan itu yang mungkin diperlukan oleh seorang atlet sepakbola. Hari itu adalah yang paling indah dalam hidup saya," ujar Hajar, dengan mata berkaca-kaca.

Pada saat lingkungan terdekat mendukung secara penuh, beda cerita dengan keluarga besar sang pemain tersebut. Pada saat Hajar bermain di kompetisi, sang paman malah menentang keinginannya bermain olahraga sepakbola.

Bukan hanya ditabukan, sepakbola di hadapan sang paman adalah aktivitas yang cukup hina dan mendatangkan aib untuk keluarga besar mereka.

"Paman saya tidak setuju aktivitas olahraga saya. Dia menyatakan bahwa saya telah membuat malu keluarga besar, dan dia merasa malu setiap melihat saya di pertandingan nasional atau mendengar nama saya di radio," ucap Hajar.

"Dia selalu menyuruh saya untuk berhenti. Pada suatu hari, saat dia berkunjung ke rumah kami, saya segera keluar lewat jendela demi datang ke pertandingan supaya bisa menghindari kritiknya," kata Hajar menambahkan.

Tantangan dari keluarga besar karena budaya di negara tersebut tidak menghentikan tekad Hajar mendalami sepakbola. Perjalanannya di dunia si kulit bundar terus dilakoninya, hingga membawanya tampil pada tingkat internasional. Hal yang sebelumnya belum pernah terbayang dalam benaknya.

Hajar Abulfazl Juga Turut Menjadi Pejuang Kesetaraan

Hajar Abulfazl - Hijaber Yang Menjadi Legenda Sepakbola Wanita Afghanistan (Rolling Stone)

Hajar bermain di tim nasional wanita Afghanistan nyaris satu dekade lamanya, dari tahun 2009 sampai 2017. Di tahun 2010 dan 2012, Hajar bisa tampil bersama tim nasional sepakbola wanita Afghanistan pada turnamen Federasi Sepak Bola Asia Selatan (SAFF).

Di kejuaraan SAFF, Afghanistan mencatatkan berbagai macam hasil. Sempat terpuruk di tahun 2010, Afghanistan bangkit dengan menang 4-0 atas Pakistan kemudian seri 1-1 melawan Maladewa.

Dalam laga uji coba, Hajar Abulfazl membantu Afghanistan menang dengan skor 2-0 atas Qatar. Hajar turut terlibat juga pada pertandingan persahabatan Afghanistan lainnya di Jerman, Norwegia, Sri Lanka, Qatar, India, Yordania, dan lain-lain.

"Kami mengalami sejumlah kekalahan, namun juga meraup beberapa kemenangan," ujar Hajar yang ketika masih bermain berposisi sebagai gelandang.

Bagi Hajar Abulfazl, pandangan kolot di Afghanistan mengenai perempuan yang terlibat dalam olahraga menjadi salah satu tugas yang tak mudah dalam hidupnya yang harus diselesaikan.

Perempuan di negara Afghanistan tidak hanya dilarang memainkan sepakbola maupun olahraga lain. Pada saat perempuan mencoba keluar dari pakem budaya dan norma tersebut, tekanan sosial berjalan dan berdampak hujatan untuk yang berani menembus norma-norma tersebut.

Persoalan itu yang membuat Hajar Abulfazl menjadi kuat untuk memperjuangkan hak-hak perempuan di negara tersebut. Hajar bermimpi semua wanita mempunyai kesetaraan dengan laki-laki dan dapat menjalani aktivitas olahraga dengan nyaman tanpa rasa khawatir atau was-was.

Salah satu usaha Hajar menuntut kesetaraan hak perempuan di negara Afghanistan dalam dunia olahraga termasuk sepakbola, dia rangkap jabatan sebagai pemain sepakbola dan Kepala Komite Sepak Bola Perempuan di Federasi Sepak Bola Afghanistan sejak tahun 2012 sampai 2014.

Namun, usaha itu dinilai tidak cukup. Saat sejumlah perempuan di Afghanistan mulai turun ke stadion, persoalan-persoalan lain bermunculan. Antara lain pemain sepakbola perempuan di Afghanistan pensiun bermain pasca menikah, sebab tidak memperoleh izin dari mertua.

"Saya melihat sejumlah rekan pemain yang memutuskan stop bermain sepakbola setelah terus-terusan dihina dan dikritik di lingkungan sosialnya. Namun, tak sedikit orang lain yang saya tahu, terus mencoba bermain secara diam-diam, bahkan setelah mendapatkan penyiksaan secara fisik, hal itu karena kecintaan pada olahraga," Hajar menambahkan.

Hajar Abulfazl - Hijaber Yang Menjadi Legenda Sepakbola Wanita Afghanistan

Tidak seluruh perempuan di Afghanistan bisa bernasib seperti Hajar Abulfazl yang memperoleh izin dari keluarga. Ketika beberapa orang tua lain menyuruh anak-anak wanita mereka pergi dari lapangan, dengan motivasi untuk melindungi dan mempertahankan paradigma yang ia nilai konservatif, dia memperoleh dukungan dari keluarganya.

Supaya meminimalisir atau menghilangkan tantangan dan diskriminasi yang dapat menghentikan impian wanita, serta anak gadis di seluruh dunia, Hajar memiliki harapan untuk didukung oleh keluarga masing-masing.

"Kesetaraan untuk saya artinya laki-laki dan perempuan mempunyai kebebasan yang tidak dibedakan dalam membuat keputusan, berpikir, mencari raihan kita sendiri, dan memilih jalan hidup kita sendiri.

Kesetaraan artinya perempuan diperbolehkan meraih juara dan menjadi superstar dalam kehidupan masing-masing mereka," kata eks pelatih tim nasional wanita Afghanistan U-17 tersebut.

Menurut sang mantan pemain yang saat ini berprofesi sebagai dokter tersebut, ia ingin menunjukkan bahwa olahraga itu bisa berdampak positif bagi setiap orang, keluarga, serta masyarakat. Melakukan olahraga, wanita lebih tangguh dan produktif.

Hajar mengatakan bahwa sepakbola yang disukainya telah mengajarkan hidup disiplin dan memiliki komitmen, keberhasilan, serta kegagalan.

Karena izin Tuhan, lewat sepakbola pula, kata Hajar, dia kemudian mengelilingi dunia dan terlibat even lintas budaya. Melalui sepakbola, Hajar melakukan kontribusi dalam perdamaian lewat olahraga.

"Saya mengetahui manfaat olahraga dan orang tidak dapat menyembunyikan paradigma mereka mengenai itu. 

Anda belajar bagaimana menjadi seorang pekerja keras dan bagaimana saat Anda mengalami kekalahan, Anda mempelajari cara bekerja keras untuk menuai keberhasilan di waktu yang lain. Itu menjadikan Anda merasa seperti, Anda dapat melakoni apa saja. Saya mempelajarinya dari olahraga," kata Hajar.

Selain menjelaskan mengenai paradigma tabu tentang olahraga dan sepakbola bagi perempuan di Afghanistan, Hajar juga memberikan pandangannya mengenai hijab yang dianggap sebagai salah satu halangan untuk perempuan dalam menjalani olahraga.

Di negara Afghanistan, jersey untuk sepakbola pada umumnya dinilai tidak sopan, meski untuk perempuan telah mengenakan lengan panjang serta juga bahan untuk menutupi kaki para perempuan itu.

"Untuk kami, berdandan untuk suatu laga sedikit [lebih] sulit dibandingkan untuk mayoritas pemain wanita di negara-negara Barat. Kostum kami harus peka dengan adat dan budaya, selain juga karena selama bertahun-tahun kami telah terbiasa memainkan olahraga mengenakan jilbab," ucap Hajar.

Di mata Hajar Abulfazl, hijab sama sekali bukan penghalang perempuan dalam berolahraga, termasuk mengikuti kompetisi. Pandangan tersebut juga yang ditampilkan Hajar dengan tetap memakai jilbab ketika bermain sepakbola. Dia menjelaskan, sejauh ini banyak desain jilbab yang dapat dipakai untuk menjalani olahraga.

"Sebagai inspirasi pemberdayaan olahraga perempuan, saya mengenakannya untuk menunjukkan kepada generasi selanjutnya dan orang tua mereka bagaimana perempuan dan anak gadis Afghanistan bisa mempertahankan rasa hormat terhadap agama dan budaya sembaril meraih prestasi olahraga serta manfaat dalam meningkatkan kemandirian dan kesetaraan di masyarakat," tutup Hajar.