Profil Prabowo Subianto

Prabowo Subianto siap maju sebagai calon presiden 2024, sekaligus jadi yang ketiga kalinya sebagai capres. Akankah kali ini Prabowo berhasil menjadi RI 1?

Profil Prabowo Subianto
Profil Prabowo Subianto : Dari Menhan ke RI 1?
jasa backlink pbn
BIODATA LENGKAP PRABOWO SUBIANTO
Nama Lengkap Prabowo Subianto Djojohadikusumo
Agama Islam
Tanggal Lahir 17 Oktober 1951
Jabatan Menteri Pertahanan Republik Indonesia
Presiden Ir. H. Joko Widodo
Wakil Presiden Ma’ruf Amin
Masa Jabatan 2019 - 2024
Mulai Menjabat 23 Oktober 2019
JABATAN (SAAT INI & SAAT AKTIF di MILITER)

1. Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya ke-2

     Mulai Menjabat                       : 20 September 2014

     Ketua Dewan Pembina             : Prabowo Subianto

     Pendahulu                              :  Suhardi

2. Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat ke-22

     Masa jabatan                          : 20 Maret 1998 – 22 Mei 1998

     Presiden                                 : Soeharto

     Pendahulu                              : Soegijono

     Pengganti                               : Johny Lumintang

3. Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus ke-15

    Masa jabatan                           : 1 Desember 1995 – 20 Maret 1998

    Presiden                                  : Soeharto

    Pendahulu                               : Subagyo Hadi Siswoyo

    Pengganti                                : Muchdi Purwoprandjono

INFORMASI KEHIDUPAN PRIBADI
Kebangsaan Indonesia 
Partai Politik Gerindra (Gerakan Indonesia Raya)
Afliasi politik

Partai Golongan Karya (hingga 2008)

Pasangan Siti Hediati Hariyadi (menikah 1983; cerai 1998)
Anak Ragowo Hediprasetyo Djojohadikoesoemo
Orang tua Soemitro Djojohadikoesoemo (ayah), Dora Marie Sigar (ibu)
Daftar Kerabat Margono Djojohadikoesoemo (kakek)
Soebianto Djojohadikoesoemo (paman)
Soejono Djojohadikusumo (paman)
Hashim Djojohadikusumo (adik)
Aryo Djojohadikusumo (keponakan)
Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (keponakan)
Thomas Djiwandono (keponakan)
Budi Djiwandono (keponakan)
Pendidikan 
  1. Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
  2. Satyalancana Kesetiaan XVI
  3. Satyalancana Seroja Ulangan–III
  4. Bintang Yudha Dharma Nararya
KIPRAH DUNIA MILITER
Kesatuan Indonesia
Dinas/cabang TNI Angkatan Darat
Masa Dinas 1974–1998
Pangkat Letnan Jenderal TNI
Satuan Infanteri (Kopassus)
Pertempuran
  1. Operasi Seroja
  2. Operasi Pembebasan
  3. Sandera Mapenduma

Prabowo Subianto Djojohadikusumo atau dikenal publik sebagai Prabowo Subianto (lahir 17 Oktober 1951) adalah seorang pengusaha Indonesia, politisi dan mantan Letnan Jenderal di Tentara Nasional Indonesia.

Dalam pemilihan presiden Indonesia, 2009 ia mencalonkan diri sebagai wakil presiden sebagai bagian dari kampanye Megawati Sukarnoputri untuk presiden. Dia mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilihan presiden Indonesia, 2014 tetapi dikalahkan oleh Gubernur Jakarta Joko Widodo dengan sangat dekat, yang dia bantah.

Prabowo Subianto adalah putra Sumitro Djojohadikusumo, seorang ekonom Indonesia, dan Dora Sigar. Ia juga mantan suami dari Siti Hediati "Titiek" Suharto, putri kedua mendiang Presiden Suharto, mereka menikah pada 1983 dan bercerai pada 1998 saat krisis politik Indonesia.

Latar Belakang Keluarga Prabowo Subianto

Kakek Prabowo Subianto, Margono Djojohadikusumo, adalah pendiri Bank Negara Indonesia, Ketua Pertama Dewan Pertimbangan Agung Sementara, dan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Ayah Prabowo Subianto, Sumitro Djojohadikusumo, adalah seorang ekonom yang menjabat sebagai mantan menteri ekonomi dan menteri penelitian dan teknologi Presiden Suharto. Sumitro menamai Prabowo Subianto setelah adiknya sendiri, seorang pahlawan martir yang tewas dalam pertempuran melawan Belanda di Yogyakarta selama Revolusi Nasional Indonesia.

Prabowo Subianto memiliki dua kakak perempuan, Bintianingsih dan Mayrani Ekowati, serta satu adik laki-laki, Hashim Djojohadikusumo. Kepentingan bisnis konglomerat pribumi Hashim terbentang dari Indonesia hingga Kanada dan Rusia. Antara 1966 dan 1968, keluarga itu tinggal di London, tempat Prabowo Subianto bersekolah dan lulus dari The American School di London.

Sumitro kemudian mendorong putranya untuk menghadiri akademi militer. Salah satu panutan Prabowo adalah tokoh militer Turki Ataturk, dan menurut rekan-rekan dan pengamat, Prabowo Subianto berbakat dengan hasrat untuk siasat dan memiliki selera untuk kekuatan politik.

Prabowo Subianto menikah dengan putri Suharto, Siti Hediati Hariyadi, pada tahun 1983. Mereka memiliki seorang putra, Didiet Prabowo, yang tinggal di Boston sebelum menetap di Paris untuk mengejar karir di bidang desain.

Profil Prabowo Subianto : Dari Menhan ke RI 1?

Perjalanan Karir di Dunia Militer

Prabowo Subianto mendaftar di Akademi Militer Indonesia di Magelang pada tahun 1970. Dia lulus pada tahun 1974 dengan orang lain yang akan mendapatkan posisi kepemimpinan senior seperti Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada tahun 1976, Prabowo bertugas di Kopassus Kopassus Tentara Nasional Indonesia dan ditugaskan sebagai komandan Grup 1 Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha), yang merupakan salah satu unit komando Nanggala Angkatan Darat Indonesia di Timor Timur, bekas wilayah Portugis yang Indonesia telah menyerang tahun sebelumnya.

Prabowo, saat itu berusia 26 tahun, adalah Panglima Nanggala termuda. Prabowo Subianto memimpin misi untuk menangkap wakil presiden Fretilin yang merupakan Perdana Menteri pertama Timor Timur, Nicolau dos Reis Lobato. Yang membimbing Prabowo adalah Antonio Lobato – adik Nicolau.

Pada tanggal 31 Desember 1978, kompi Prabowo menemukan dan menembak mati Nicolau di bagian perut saat ia sedang dikawal di Maubisse, lima puluh kilometer selatan Dili.

Pelatihan Komando di Amerika Serikat

Pada tahun 1985 Prabowo Subianto menghadiri Kursus Perwira Infanteri Tingkat Lanjut di Fort Benning, Amerika Serikat untuk pelatihan komando. Pada awal 1990-an, sebagai Komandan Grup 3 Kopassus, Mayjen Prabowo kini berusaha untuk menghancurkan gerakan kemerdekaan Timor Timur dengan menggunakan pasukan tidak teratur (geng "ninja" berkerudung berpakaian hitam dan beroperasi di malam hari)

Dan, di kota-kota dan desa-desa utama, milisi dilatih dan diarahkan oleh komandan Kopassus. Pelanggaran HAM meningkat. Kampanye Angkatan Darat tahun 1997 disebut Operasi Pemberantasan.

Pada tahun 1996,  Prabowo Subiantomemimpin Operasi Mapenduma di daerah pegunungan Papua, Indonesia. Tujuan dari operasi tersebut adalah pembebasan 11 peneliti ilmiah yang disandera oleh Gerakan Papua Merdeka.

Para peneliti itu adalah lima orang Indonesia, empat orang Inggris, satu orang Belanda, dan seorang istri Jerman yang sedang hamil. Dua sandera laki-laki Indonesia tewas sesaat sebelum operasi penyelamatan. Misi tersebut melibatkan dukungan rahasia dari Atase Militer Inggris dan veteran SAS Kolonel Ivor Helberg.

Operasi itu dikritik karena menggunakan lambang Palang Merah di helikopter putih untuk menipu pemberontak Papua. Ketika helikopter mendarat di Geselema, penduduk desa yang tidak bersalah yang tidak ada hubungannya dengan penculikan itu berlari ke arahnya, mengira itu adalah teman-teman mereka dari Palang Merah.

Sebaliknya, pria bersenjata kulit putih dan tentara Indonesia melompat keluar dan menembak mati mereka. Gerakan Papua Merdeka telah melakukan negosiasi damai untuk membebaskan para sandera sampai pembantaian ini memicu kekerasan di mana dua sandera Indonesia tewas.

Pada 20 Maret 19 98, Prabowo Subiantodiangkat sebagai kepala Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) yang berkekuatan 27.000 orang, garnisun utama Jakarta yang pernah dikomandani Suharto pada tahun 1965.

Pada tahun tersebut peran seorang Jendearal Prabowo sangat besar sekali. Karena pangkat tersebut menandakan Prabowo menjadi salah satu tokoh berpengaruh di dalam dunia militer Indonesia. Dengan begitu peran dan sekaligus ketokohannya makin dikenal terutama oleh seluruh pasukan TNI Indonesia di kala itu.

Baca Juga : Profil Ganjar Pranowo: Capres 2024 Idola Wong Cilik

Profil Prabowo Subianto : Dari Menhan ke RI 1?

Kerusuhan Reformasi 1998 dan Jatuhnya Rezim Suharto

Ketika dampak krisis keuangan Asia Timur mulai memburuk bagi orang Indonesia, dan kekacauan sosial dan kebencian terbuka terhadap pemerintahan Suharto meningkat, Prabowo Subianto secara terbuka mendesak umat Islam Indonesia untuk bergabung dengannya untuk memerangi "pengkhianat bangsa".

Dalam percakapan  pribadi dengan Sofyan Wanandi, Prabowo Subiantomengatakan bahwa dia bersedia "mengusir semua orang Tionghoa ke luar negeri bahkan jika itu membuat ekonomi mundur dua puluh atau tiga puluh tahun", dan "Kalian umat Katolik Tionghoa berusaha menggulingkan Suharto".

Konyol untuk berpikir bahwa kelompok kecil seperti Cina atau Kristen bisa melakukannya." Namun, beberapa hari kemudian, Pak Wanandi membantah pernah membuat pernyataan seperti itu. Kurang dari tiga bulan setelah pengangkatannya sebagai Kepala Kostrad, pada hari pertama kerusuhan Mei 1998, Prabowo mendesak Panglima Tentara Nasional Indonesia, Wiranto, untuk membiarkan dia membawa unit Cadangan Strategis dari luar Jakarta ke kota untuk membantu memulihkan ketertiban.

Ratusan orang yang dilatih oleh Kopassus (mantan komando Prabowo) diterbangkan dari Dili ke Yogyakarta dengan pesawat sewaan, dan kemudian ke Jakarta dengan kereta api.[20] Prabowo Subianto secara terbuka mendesak orang Indonesia untuk bergabung dengannya untuk memerangi "pengkhianat bangsa".

Dimulai Dengan Peran Kopassus

Pada pagi hari tanggal 14 Mei, pasukan Kopassus mengawal preman-preman muda dari Lampung di Sumatera bagian selatan menuju ibu kota. Oleh karena itu, Prabowo Subianto dituduh menggunakan kontaknya di komando sebelumnya untuk mengimpor dan membuat masalah, sementara Wiranto menolak memberikan izin kepada Kostrad saat ini untuk mengatasi masalah yang ada, sejalan dengan taktik Jawa klasik untuk menimbulkan kekacauan untuk mendiskreditkan saingannya. dan/atau merebut kekuasaan.

Pasukan di bawah komando Prabowo menculik dan menyiksa setidaknya sembilan aktivis demokrasi pada bulan-bulan sebelum Kerusuhan Mei 1998. Dalam satu kesaksian, seorang mantan tahanan menceritakan tentang disiksa selama berhari-hari di sebuah lokasi yang tidak diketahui, diduga sebuah kamp militer di mana sebagian besar waktu mereka dihabiskan.

Ditutup matanya, sementara dipaksa untuk menjawab pertanyaan berulang-ulang, terutama mengenai kegiatan politik mereka. Pelecehan termasuk ditinju, diteror secara fisik dan mental, dan disetrum.

Kemudian, pada tahun 2009, dua dari sembilan orang itu adalah kandidat untuk Gerinda, partai politik Prabowo Subianto, dan seorang lagi menjabat sebagai penasihat medianya. Prabowo Subianto juga diduga mengorganisir penculikan aktivis 1997-1998 di Indonesia terhadap 13 aktivis lainnya (yang semuanya masih "hilang") antara Februari 1997 dan Mei 1998.

Penyelidikan selanjutnya terhadap kerusuhan Mei mengungkapkan bahwa kekerasan di Jakarta adalah hasil dari perjuangan internal di kalangan elit militer untuk menjadi penerus Suharto. Banyak yang percaya Prabowo, sebagai Panglima Cadangan Strategis, berusaha menjadi penerus mertuanya dan mengingini posisi Panglima Angkatan Bersenjata yang dijabat oleh Jenderal Wiranto, yang diunggulkan untuk menggantikan Suharto.

Partner Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin

Bersama Panglima Komando Operasi Jakarta Raya (Pangkoops Jaya) Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin, Prabowo Subianto bertujuan untuk meneror lawan-lawan pemerintah dan untuk menunjukkan bahwa Wiranto adalah "komandan yang tidak kompeten yang tidak bisa mengendalikan kekacauan".

Selama bulan Agustus dan September, tim pencari fakta mewawancarai Prabowo, Sjafrie, dan komandan militer lainnya mengenai pergerakan mereka selama kerusuhan Jakarta. Prabowo menegaskan tidak yakin persis pergerakan pasukan militer di ibu kota dan menyerahkan diri kepada Sjafrie.

Dalam laporan terakhirnya, tim pencari fakta menduga, pada malam 14 Mei, Prabowo Subianto bertemu dengan beberapa ABRI dan tokoh sipil terkemuka di markas Kostrad untuk membahas organisasi kekerasan.

Namun, hal itu kemudian dibantah oleh beberapa orang yang hadir dalam pertemuan itu, termasuk pengacara HAM terkemuka Adnan Buyung Nasution dan anggota Tim Gabungan Pencari Fakta Bambang Widjojanto.

Kesaksian lebih lanjut oleh Prabowo Subianto pada tahun-tahun setelah penyelidikan bertentangan dengan laporan tim dan menyebabkan skeptisisme terhadap tuduhan tim.

Baca Juga : Profil Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta Menuju RI 1

Profil Prabowo Subianto : Dari Menhan ke RI 1?

Pengunduran Diri Presiden Soeharto Mei 1998

Pada 21 Mei 1998, Suharto mengumumkan pengunduran dirinya dari Kepresidenan dan Wakil Presiden BJ Habibie mengambil alih sebagai Presiden. Sore hari setelah Habibie dilantik sebagai Presiden, Letnan Jenderal Prabowo Subianto menuntut Habibie agar dia diangkat menjadi komandan tentara menggantikan Wiranto.

Namun, Habibie dan Wiranto malah menurunkan Prabowo Subianto dari Panglima Kostrad, dan keesokan harinya mengumumkan kenaikan pangkat Wiranto menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan dan Panglima TNI. Prabowo yang marah pergi ke Istana Kepresidenan dengan membawa senjata dan truk pasukan Kostradnya.

Karena dihalangi memasuki kantor Habibie, ia malah mendatangi Suharto yang menegurnya. Prabowo dikunjungi oleh Wiranto di rumahnya selama akhir pekan tanggal 23-24 Mei dan kemudian ditugaskan kembali ke peran non-tempur di Sekolah Staf Umum dan Komando Angkatan Bersenjata di Bandung.

Setelah penyelidikan TNI, Prabowo mengakui bertanggung jawab atas penculikan para aktivis. Dia diberhentikan dari dinas militer pada bulan Agustus. Dia dan Wiranto membantah pemecatan itu akibat tindakan disipliner.

Pada bulan Agustus 1998, Dewan Kehormatan Perwira mengadili, dan menyatakan Prabowo bersalah karena "salah menafsirkan perintah" dalam penculikan aktivis anti-Soeharto pada tahun 1998. Dia diberhentikan dari dinas militer, dan diasingkan secara sukarela di Yordania dimana dia mengenal Raja Abdullah yang baru muda di negara itu sebagai sesama komandan pasukan khusus.

Dalam sebuah wawancara untuk Asia Now pada tahun 2000, Prabowo Subianto mengatakan "Saya tidak pernah mengancam Habibie. Saya tidak berada di belakang kerusuhan. Itu adalah kebohongan besar. Saya tidak pernah mengkhianati Pak Harto.

Saya tidak pernah mengkhianati Habibie. Saya tidak pernah mengkhianati negara saya. kelompok tertentu yang ingin menjadikan saya kambing hitam, mungkin untuk menyembunyikan keterlibatan mereka.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah lama mempertanyakan kelayakan Prabowo untuk mencalonkan diri sebagai presiden, mencatat bahwa ia diberhentikan secara tidak hormat dari Angkatan Darat pada Agustus 1998 karena "salah menafsirkan perintah" dalam penculikan para aktivis demokrasi.

Meskipun itu adalah pernyataan resmi militer, para pengamat telah lama percaya bahwa itu adalah konspirasi kudeta yang membuat Prabowo Subianto, yang saat itu menjadi Panglima Kostrad, diberi perintah untuk berbaris.

Kontroversi Masa Lalu Ramai Dibahas Dalam Kontestasi Pilpres 2014

Sebagai calon presiden 2014, masa lalu Prabowo mendapat sorotan baru, dengan banyak organisasi menyerukan agar dia mundur. Koalisi yang terdiri dari Imparsial, Kontras, Setara Institute, dan Human Rights Working Group (HRWG), yang tergabung dalam Civil Society Coalition Against Forgetting, mengunjungi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Jakarta pada 7 Mei 2014 mendesak KPU untuk mengusut kembali Prabowo Subianto.

Sebuah laporan 27 Juni 2014 menunjukkan bahwa seorang jurnalis investigasi, Allan Nairn, telah diancam akan ditangkap "karena mengungkapkan peran mantan jenderal dalam pelanggaran hak asasi manusia."

Profil Prabowo Subianto : Dari Menhan ke RI 1?

Perjalanan Karir Sebagai Pebisnis

Setelah keluar dari militer, Prabowo Subianto bergabung dengan bisnis saudaranya Hashim Djojohadikusumo. Ia membeli Kiani Kertas, sebuah perusahaan pulp kertas dan perkebunan yang berbasis di Mangkajang, Kalimantan Timur.

Sebelum pembelian Prabowo, Kiani dimiliki oleh Bob Hasan, seorang pengusaha yang dekat dengan mantan Presiden Suharto. Saat ini, Grup Nusantara milik Prabowo menguasai 27 perusahaan di dalam dan luar negeri. Perusahaan Prabowo meliputi Nusantara Energy (minyak dan gas alam, batu bara), Tidar Kerinci Agung (perkebunan kelapa sawit) dan Jaladri Nusantara (industri perikanan).

Prabowo mengganti nama Kiani Kertas menjadi Kertas Nusantara, dan merupakan bagian dari Nusantara Energy. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1990 ini memiliki luas 3.400 hektar yang digunakan untuk pabrik kertas, perumahan karyawan, sekolah swasta, dan berbagai fasilitas perusahaan.

Kiani telah dianugerahi ISO 900-2005 sebagai salah satu perusahaan manajemen kualitas tertinggi. Kiani Kertas dikabarkan mengalami kesulitan keuangan dan pada awal tahun 2014, para buruh turun ke jalan menuntut upah yang belum dibayarkan selama lima bulan.

Prabowo adalah calon presiden terkaya pada pemilu 2009, dengan kepemilikan Rp 1,5 triliun (sekitar US$150 juta) dan US$7,5 juta. Pada tahun 2007, PT Ridlatama yang mayoritas pemangku kepentingannya adalah Churchill PLC yang berbasis di Inggris melakukan geo-survey di wilayah Kalimantan Timur untuk batubara.

Dua bulan setelah survei membuahkan hasil positif, pejabat Kutai Timur memberikan izin pertambangan kepada Nusantara Energy (anak perusahaan Nusantara Group, konglomerat milik keluarga Prabowo Subianto) untuk beroperasi di wilayah yang disurvei Ridlatama.

Pada 2010, izin Ridlatama dicabut, yang secara efektif menyelesaikan pengambilalihan Nusantara atas operasi Churchill. Churchill mengajukan banding ke Mahkamah Agung Indonesia tetapi kalah dalam kasus tersebut.

Pada tahun 2012, Churchill mengajukan kasus terhadap pemerintah Indonesia di Pusat Internasional untuk Penyelesaian Sengketa Investasi, menuntut kompensasi $2 miliar. Indonesia berpendapat bahwa ICSID tidak memiliki kewenangan untuk melakukan arbitrase. Pada tahun 2014 ICSID memutuskan bahwa ia memiliki otoritas dan kasusnya masih berjalan.

Pada tahun 2014, Bupati Kutai Timur, Isran Noor, secara terbuka mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Dia juga mempertimbangkan untuk mengajukan tuntutan pidana terhadap Churchill, menuduh bahwa Churchill memalsukan lisensinya.

Karir di Organisasi Kenamaan Indonesia

Prabowo membuka turnamen pencak silat SEA Games 2011 yang digelar di Taman Mini, Jakarta. Prabowo Subianto merupakan ketua organisasi pencak silat Indonesia. Asosiasi Petani Indonesia didirikan pada tahun 1973 untuk mengadvokasi hak-hak petani. Prabowo terpilih sebagai Presiden HKTI pada tahun 2004, dan ia diangkat kembali pada tahun 2010 untuk masa jabatan kedua.

Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional Indonesia (APPSI) adalah organisasi nirlaba yang memperjuangkan kesejahteraan para pedagang di pasar tradisional Indonesia. Prabowo terpilih sebagai presiden APPSI pada 2008.

Pencak silat sendiri merupakan seni bela diri asli dan tradisional Indonesia. Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) mengawal regulasi olahraga di Indonesia, membina atlet, dan menyelenggarakan turnamen. Prabowo Subianto terpilih sebagai presiden IPSI pada tahun 2004 dan terpilih kembali pada tahun 2012 untuk ketiga kalinya berturut-turut.

Profil Prabowo Subianto : Dari Menhan ke RI 1?

Karir di Dunia Politik

Menggunakan koneksi Prabowo Subianto dengan Presiden Suharto, ia dan saudaranya bekerja untuk membungkam kritik jurnalistik dan politik pada 1990-an. Hashim tidak berhasil menekan Goenawan Mohamad untuk menjual majalah Tempo yang blak-blakan dan melarangnya kepadanya.

Sebagai letnan kolonel, Prabowo mengundang Gus Dur ke markas batalyonnya pada tahun 1992 dan memperingatkan dia untuk tetap berpegang pada agama dan menghindari politik, atau menghadapi tindakan yang tidak ditentukan jika dia terus menentang Presiden.

Dia kemudian memperingatkan intelektual Nurcholish Madjid (Cak Nur) untuk mengundurkan diri dari KIPP, unit pemantau pemilu yang didirikan oleh Goenawan Mohamad, yang dikecam oleh komandan angkatan bersenjata Feisal Tanjung sebagai "jelas-jelas tidak konstitusional".

Pada tahun 2004, Prabowo adalah salah satu dari lima pesaing yang bersaing untuk menjadi calon presiden dari partai Golkar. Dia menerima jumlah suara terendah, hanya 39, dan tersingkir di putaran pertama.

Pemungutan suara putaran kedua dimenangkan oleh Wiranto. Pada awal 2008, lingkaran dalam Prabowo Subianto, termasuk Fadli Zon, mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), yang mencalonkan Prabowo sebagai presiden pada pemilu 2009.

Namun, setelah memenangkan 26 dari 560 kursi di parlemen Indonesia, partai tersebut tidak memiliki jumlah yang dibutuhkan dan Prabowo mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden untuk Megawati Soekarnoputri, putri presiden pertama Indonesia Sukarno.

Pasangan ini, yang disebut oleh media Indonesia sebagai Mega-Pro, memperoleh 27% suara dan kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono dan pasangannya, ekonom Boediono. Pada November 2011, Prabowo Subianto mengumumkan niatnya mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2014.

Survei yang diterbitkan oleh Pusat Studi Kebijakan dan Pengembangan Strategis (Puskaptis) dan oleh Lembaga Survei Indonesia yang diterbitkan pada 23 Februari 2012 memberinya keunggulan - tetapi pengamat dan aktivis meragukan jajak pendapat tersebut.

Pada bulan Maret 2012, Partai Gerakan Indonesia Raya menobatkan Prabowo sebagai calon presiden 2014 mereka. Sejak itu, slogan partai diubah menjadi Gerindra Menang Prabowo Presiden (Gerindra Menang, Prabowo Menjadi Presiden).

Prabowo Subianto mengatakan dia akan menjalankan pemerintahan yang ramah investasi jika dia menang dan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak eksplorasi energi; lebih lanjut, dia mengatakan bahwa dia telah berhubungan dekat dengan serikat pekerja dan percaya meningkatnya ketidakpuasan pekerja dapat dikelola dengan anggaran nasional yang bijaksana.

Dia berjanji akan menggunakan efisiensi gaya militer untuk mendorong proyek-proyek infrastruktur yang tertunda secara kronis, serta untuk menciptakan lapangan kerja di daerah terpencil nusantara dengan meningkatkan produktivitas pertanian.

Pilar lain dari platform Prabowo Subianto adalah bahwa ia sangat sekuler, dan partainya berencana untuk melindungi hak-hak kelompok agama minoritas di negara mayoritas Muslim itu.

Menurut sejumlah quick count setelah pemilihan legislatif 9 April, Gerinda berada di urutan ketiga, menempatkan Prabowo sebagai salah satu dari dua calon presiden utama untuk pemilihan yang akan diadakan 9 Juli, yang lainnya adalah Gubernur Jakarta, Joko Widodo.

Baca Juga : Profil Ridwan Kamil

Kontestasi Pilpres 2014

Pada Selasa, 20 Mei 2014, Golkar bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Bulan Bintang (PBB), resmi mengesahkan Prabowo Subianto. mencalonkan diri untuk pemilihan presiden 2014; koalisi mengumpulkan 48,9 persen suara dan 52,1 kursi di parlemen.

Sehari sebelumnya, Prabowo telah memilih mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa sebagai calon wakil presidennya. Prabowo Subianto menerima pencalonan Partai Indonesia Raya untuk pemilihan presiden 2014 di Lembah Hambalang, pada 17 Maret 2012.

Pada 22 Juli 2014, hari ketika KPU akan mengumumkan penghitungan resminya, Prabowo mengundurkan diri dari pencalonan setelah bersikeras pada kemenangannya sejak penghitungan cepat awal dirilis, meskipun mayoritas menunjukkan Jokowi unggul.

Dia menghubungkan penarikan ini dengan Indonesia "gagal dalam tugasnya untuk demokrasi" karena "kecurangan besar-besaran yang terstruktur dan sistematis", dan menyatakan bahwa dia dan Hatta "menggunakan hak konstitusional kami untuk menolak pemilihan presiden dan menyatakannya inkonstitusional" .

Pidatonya, yang disiarkan langsung, menyiratkan bahwa dia akan menantang hasil di Mahkamah Konstitusi. Laporan kemudian menunjukkan kebingungan apakah Prabowo Subianto telah mengundurkan diri dari pemilihan atau hanya menolak penghitungan.

Menurut Douglas Ramage dari Bower's Asia Group yang berbasis di Jakarta, ini adalah pertama kalinya sejak reformasi dimulai pada tahun 1998 legitimasi proses pemilu dipertanyakan; dia menyatakan bahwa negara itu memasuki "wilayah yang belum dipetakan".

Legalitas tantangan Prabowo dipertanyakan, karena – jika dia mundur – dia tidak lagi dianggap sebagai calon presiden. Jika dia bisa membuat tantangan, menurut beberapa kantor berita, jarak antara keduanya cukup untuk membuat tantangan seperti itu menjadi sulit.

Menyusul pengumuman tersebut, nilai rupiah Indonesia turun 0,3 persen, dan IHSG turun 0,9 persen. Pengamat membantah tuduhan kecurangan Prabowo Subianto, dan bahwa mundurnya Prabowo hanya mencerminkan "sikap nyata elit, yang belum siap. menerima kekalahan".

Pada 21 Agustus 2014, Mahkamah Konstitusi Indonesia menolak klaim penipuannya, membenarkan kekalahannya dalam pemilihan.

Profil Prabowo Subianto : Dari Menhan ke RI 1?

Kontestasi Pilpres 2019

Pada 10 Agustus 2018, Prabowo Subianto mendaftar di kantor KPU untuk pemilihan presiden 2019 dengan Sandiaga Uno sebagai pasangannya dan dengan dukungan dari Gerindra, PKS, PAN, Partai Demokrat, dan Partai Berkarya. Partai Demokrat menginginkan Prabowo memilih Agus Harimurti Yudhoyono sebagai cawapres.

Setelah pemilihan, 'penghitungan cepat' yang dilakukan di tempat pemungutan suara oleh lembaga independen yang disahkan oleh pemerintah menunjukkan bahwa Jokowi telah menang dengan selisih sekitar 10%, tetapi Prabowo Subianto mengklaim kemenangan, bersikeras bahwa penghitungan nyata oleh pihaknya menunjukkan bahwa ia menerima 62% dari total suara pemilihan.

Klaimnya yang tidak berdasar tentang kecurangan yang meluas mendorong para pendukungnya untuk melakukan protes di Jakarta, yang mengakibatkan kerusuhan yang menewaskan delapan orang dan melukai 737 orang. Mahkamah Konstitusi pada Juni 2019 dengan suara bulat menolak banding Prabowo Subianto terhadap hasil pemilu.

Pada 23 Oktober 2019, Prabowo dilantik sebagai Menteri Pertahanan Indonesia oleh presiden Joko Widodo.

Baca Juga : Profil AHY : Agus Harimurti Yudhoyono

Profil Prabowo Subianto : Dari Menhan ke RI 1?

Kontroversi Agama Prabowo Subianto

Pasti hingga detik ini sekalipun banyak yang bertanya – tanya tentang agama dari Prabowo Subianto. Meskipun beliau sendiri sudah menegaskan dirinya beragama Islam, namun hal ini tidak menyurutkan niat terutama warganet dan jutaan warga negara Indonesia lainnya untuk mendapatkan informasi seputar agama Prabowo.

Bahkan beberapa waktu lalu daik kandung dari Prabowo Subianto, Hashim menegaskan jiak keluarga Prabowo Subianto merupakan cerminan dari Indonesia, karena beradat, beragama, dan berbudaya. Politikus partai Gerindra tersebut menjelaskan jika ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo merupakan seorang muslim, memiliki 4 orang anak, yang mana 2 orang beragama Islam, dan 2 lainnya beragama Kristen.

Hal ini nampaknya tidak juga menurunkan minat para warganet untuk mencari tahu kebenaran dari agama Prabowo hingga saat ini. Faktanya, hal ini sudah sangat menjelaskan jika agama yang dianut oleh Menteri Petahanan Indonesia sudah sangat jelas sekali.

Memang warganet Indonesia selalu tertarik minatnya jika membahas soal agama. Banyak sekali figur yang sudah dibahas seputar agamanya. Namun, dalam hal kasus Prabowo Subianto minat untuk menemukan kebenaran ini tidka pernah reda dan selalu tinggi pencariannya, dari waktu ke waktu.

Prabowo Subianto sendiri sudah menunjukkan jika dirinya merupakan penganut agama yang taat dengan menjalankan ibadahnya bahkan saat – saat bertugas sebagai Menteri Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia sekarang.

Profil Prabowo Subianto : Dari Menhan ke RI 1?