Sinopsis Film And Tomorrow The Entire World (2020) Gadis Fakultas Hukum Nekat Ikut Demo Walau Tak Mengerti Apa-Apa

Pada kuliah yang dia dan Batte hadiri dosen menjelaskan mengenai hak melawan siapa pun yang mencoba menghancurkan tatanan konstitusional demokrasi yang bebas, seperti dijelaskan pada beberapa ayat di undang-undang Jerman, dijamin secara hukum.

Sinopsis Film And Tomorrow The Entire World (2020) Gadis Fakultas Hukum Nekat Ikut Demo Walau Tak Mengerti Apa-Apa
jasa backlink pbn

Mengusung genre Political Drama Film And Tomorrow The Entire World asal Jerman karya sutradara Julia von Heinz rilis 29 Oktober 2020 melalui media streaming Netfilx.

Film And Tomorrow The Entire World dengan durasi 1 jam 51 menit ini diproduksi oleh Seven Elephant, Film Boutique, menggandeng aktor Mala Ernde, Noah Saavedra, Tonio Schneider, dan Luisa-Celine Gaffron.

Mengisahkan Seorang gadis dari keluarga baik-baik, berkecukupan, mendapat fasilitas memadai untuk berkembang, terlibat dalam kelompok antifa. Tidak membekali diri dengan apa-apa kecuali nekat, dia ikut gerakan demonstrasi damai.

Rencananya berubah karena dia mulai tertarik menyampaikan protes dengan cara yang rusuh. 

 

Baca Juga :Sinopsis Film Major Grom: Plague Doctor (2021) Kota Saint Petersburg Di Teror Pembunuh

 

Sinopsis And Tomorrow The Entire World

Film dimulai dengan memperlihatkan seorang gadis berjalan menenteng senjata laras panjang. Disusul sebuah teks bertuliskan bahwa Republik Federal Jerman adalah negara demokrasi dan sosial; tak lama terlihat gadis itu membuang senjatanya dengan kesal.

Semua warga Jerman berhak melawan siapa pun yang ingin menghapus tatanan konstitusional ini jika tidak ada cara lain. Begitu bunyi Pasal 20 Ayat 4 Konstitusi Jerman yang termuat dalam teks pembukaan di film ini.

Film berlanjut dengan memperlihatkan adegan ketika Luisa (Mala Ernde) tampak menunggu seseorang di pinggir jalan. Tak lama orang yang ditunggu datang. Dia adalah Batte (Luisa-Celine Gaffron), teman Luisa semasa di sekolah. Bersama Batte, Luisa menghampiri beberapa pemuda dan dikenalkan pada mereka.

Mereka kemudian terlihat memilih-milih, menyelamatkan bahan makanan yang masih bisa dimanfaatkan dari tumpukan makanan sisa secara sembunyi-sembunyi. Di markas mereka, Luisa yang rupanya adalah ‘anak baru’ memperkenalkan diri. Dia adalah mahasiswi hukum tahun pertama yang masih dibiayai orangtua.

Kelompok tersebut terlihat tak begitu tertarik dengan kehadirannya. Mereka langsung membubarkan diri dan bersiap untuk rapat lain yang nantinya membahas soal unjuk rasa yang akan dilakukan. Benar saja, tak lama para anggota dipanggil kembali untuk berkumpul.

Seorang pemuda tampak sedang mempresentasikan sesuatu yang membahas tentang pelarangan Perlindungan Tanah Air Selatan dan seorang pria bernama Niemann beserta kaki tangannya.

Pemuda itu meminta pada yang lain untuk mengirimkan informasi apapun terkait orang tersebut padanya, karena hal itu akan berguna. Pemuda tersebut sekaligus mengingatkan bahwa Niemann dan kaki tangannya berbahaya.

Selesai pemuda itu bicara, Batte menyampaikan sesuatu agar membuat unjuk rasa tetap berjalan damai. Tujuan mereka adalah untuk mendapat perhatian dan membuat perubahan.

Batte kemudian meminta Peppa membuat spanduk bersama Luisa. Sudah mendapat tugas membuat spanduk, Luisa masih saja bingung dan canggung hingga dia diingatkan oleh pemuda salah satu anggota lama di sana.

Alih-alih bergabung, Luisa memutuskan pulang ke rumah dan terlihat membawa bekal. Subuh-subuh sekali Luisa sudah meninggalkan rumah dan pergi kuliah. Di sana dia kembali bertemu Batte.

Pada kuliah yang dia dan Batte hadiri dosen menjelaskan mengenai hak melawan siapa pun yang mencoba menghancurkan tatanan konstitusional demokrasi yang bebas, seperti dijelaskan pada beberapa ayat di undang-undang Jerman, dijamin secara hukum.

Dosen lalu bertanya apa maksud dari aturan tersebut dan kapan hak tersebut berlaku? Seorang mahasiswa menjawab setelah kudeta atau saat-saat sudah terlambat. Dosen melanjutkan materinya.

Dia sengaja memancing para mahasiswa untuk berpikir kritis dengan melontarkan pernyataan yang berbunyi bukankah seharusnya hak tersebut berlaku sebelum tatanan konstitusional terancam?

Bukankah seharusnya diizinkan melawan mereka yang menyiapkan kudeta antidemokrasi? Mendengar pertanyaan itu Luisa mengangkat tangannya, mencoba mengutarakan sesuatu. Luisa mengatakan bahwa polisi dan hukum seharusnya menangani hal itu lebih dulu. Lagipula menurutnya hak hanya berlaku saat cara lain tak bisa digunakan.

 

Baca Juga :Sinopsis Film Escape Room 1 (2019),Terjebak Teka Teki Maut

 

Dosen membenarkan perkataan Luisa sebelum seorang mahasiswa menginterupsinya. Mahasiswa itu mengajukan pertanyaan retoris: lalu bagaimana jika pihak berwenang melanggar hak dasar seperti hak orang Jerman untuk aman, untuk dilindungi dari imigran gelap? Pernyataannya ini mengundang reaksi tak suka dari mahasiswa lainnya.

Di tengah suasana yang ricuh, dosen tersebut mengatakan bahwa kepercayaan terhadap pihak berwenang adalah alasan hak melawan ini ditetapkan. Cerita berlanjut saat Luisa sudah bergabung bersama teman-teman demonstran yang lain. Sambil meneriakkan antifascista berulang kali mereka berdemo di depan seorang pembicara wanita.

Kerusuhan mulai terjadi ketika beberapa oknum melempari wanita tersebut dengan kue tart. Pihak kepolisian berhasil menangkap salah satunya tapi Luisa yang melihat itu tidak tinggal diam. Dia mengambil ponsel si pendemo yang terjatuh dengan maksud mengalihkan perhatian pihak kepolisian. Benar saja, gadis itu kini dikejar oleh pihak berwajib dan berhasil dilumpuhkan.

Terlihat sekilas polisi itu menggeledah Luisa sampai melakukan sesuatu yang melecehkan. Hingga tiba-tiba seseorang bertopeng datang dan memukul polisi tersebut hingga pingsan. Dia membawa Luisa melarikan diri. Seseorang itu rupanya Alfa (Noah Saavedra), pemuda yang sempat menegur Luisa beberapa waktu lalu.

Keduanya lantas keluar dari persembunyian dan menyamarkan penampilan. Di sini Luisa harus menutupi celananya yang basah karena ngompol. Saat berhasil kumpul kembali dengan kelompoknya, mereka justru berdebat.

Batte yang melihat Luisa sedikit terluka di ujung bibir meradang. Alfa menanggapinya dengan tegang dan mengatakan tak seharusnya membawa orang baru dalam kelompok mereka. 

Luisa akhirnya memutuskan pulang, sambil berusaha membuka telepon genggam yang dia pungut dari salah satu pendemo. Kejadian tadi rupanya tak begitu saja bisa dilupakan Luisa. Saat sedang beristirahat pun dia tiba-tiba terbangun, seolah mengalami lagi hal tersebut.

Luisa kemudian terbangun dan memutuskan pergi menemui Batte. Dia akhirnya dibolehkan untuk tinggal bersama anggota demonstrasi yang lain. Hubungan Luisa dan Batte rupanya lebih dari teman. Mereka menjalin hubungan yang romantis. Lalu bagaimana kelanjutan perjuangan Luisa, Batte dan yang lain?