Sinopsis Film Serial Spycraft (2021), Spionase Dari Era Perang Dunia I Hingga Saat Ini

sebuah narasi tentang mata-mata, yaitu mereka yang bekerja, melakukan pengawasan guna mengetahui rahasia dari musuhnya. Keuntungan ketika menyadap musuh salah satunya adalah mendapatkan informasi. Agar tugas ini berjalan mulus, para mata-mata menggunakan teknologi “siluman” dan pengawasan yang paling canggih.

Sinopsis Film Serial Spycraft (2021), Spionase Dari Era Perang Dunia I Hingga Saat Ini
jasa backlink pbn

Mengusung genre Film Dokumenter, Spionase, Film Spycraft asal Amerika karya sutradara Keith H. Melton, juga Robert Wallace (Ex-Producers, Co-Creators) telah resmi rilis pada 20 Januari 2021.

Film Spycraft dengan 8 episode ini diproduksi oleh Big Media, KM Records, Picasso Film dan di perankan oleh beberapa aktor ternama yaitu Gerald B. Richards, Hamet Yousef, Ray Parrack, juga Jim Gosler.

Mengisahkan tentang dunia mata-mata yang selama ini banyak kita saksikan melalui film, dikupas dan dibedah secara nyata melalui film dokumenter original Netflix berjudul Spycraft. Di sini, para ahli yang pernah bekerja di FBI dan CIA memberi kesaksian dan pengetahuannya secara detail kepada Anda. Mereka adalah orang-orang yang sudah berpengalaman sekian tahun menggali dan terjun langsung di dunia spionase.

Menyaksikan film dokumenter ini, Anda akan melihat bahwa upaya-upaya yang dilakukan untuk memata-matai target tertentu bisa sangat tidak terpikirkan. Teknik yang digunakan sangat canggih dan tentu saja hanya mampu dilakukan oleh para ahli.

 

Baca Juga :Sinopsis Film Things Heard and Seen (2021), Pindah ke Rumah Tua Yang Mistis

 

Sinopsis Spycraft

Spycraft dimulai dengan sebuah narasi tentang mata-mata, yaitu mereka yang bekerja, melakukan pengawasan guna mengetahui rahasia dari musuhnya. Keuntungan ketika menyadap musuh salah satunya adalah mendapatkan informasi. Agar tugas ini berjalan mulus, para mata-mata menggunakan teknologi “siluman” dan pengawasan yang paling canggih.

Ketika badan intelijen tidak memiliki akses, mereka harus kreatif. Salah satu idenya adalah membuat mikrofon di dalam sebuah peluru. Peluru itu nantinya ditembakkan sehingga dapat menangkap dan merekam sebuah komunikasi atau informasi yang dibutuhkan untuk kemudian mengirimkannya. Para mata-mata juga bisa melacak siapa pun jika diperlukan.

Mata-mata itu nyata. Para penguasa, pemerintah, perusahaan atau seorang kekasih telah menggunakan jasa mereka sejak berabad-abad lalu. Gunanya tentu saja untuk mendapatkan informasi, menilai potensi ancaman yang akan dihadapi, menghentikan serangan lalu menang.

Saat ini, badan intelijen melakukan operasi spionase menggunakan alat-alat pengawasan yang sudah sangat canggih. Anda akan kaget ketika melihat mikrofon super kecil, kamera video subminiature dan teknologi drone yang mereka miliki.

Keith Melton, Intelligence Historian and Author, mengatakan bahwa tidak ada cara yang lain bagi mata-mata untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan selain dengan menguping. Semakin baik peralatan yang mereka gunakan, semakin baik pula pengawasannya.

Narasi berlanjut dengan mengatakan bahwa pada tahun 1950 hingga 1960-an, penggunaan bugs menjadi sebuah teknik yang umum dipakai oleh badan intelijen untuk pengawasan. Badan intelijen  biasanya menggabungkan pemancar radio mini dengan mikrofon yang bisa beroperasi menggunakan baterai.

Salah satu contoh kreatif untuk pengawasan, dikembangkan oleh StB, yaitu Badan Intelijen Cekoslowakia pada tahun 1970-an. Ketika itu, target mereka adalah duta besar Amerika Serikat dan sepatu import miliknya. Ketika pesanan sepatu tersebut datang, pihak StB sudah lebih dulu mencegatnya kemudian memodifikasinya menggunakan alat penyadap.

Ray Parrack, Senior Technical Intelligence Officer [RET.] CIA, mengatakan mengenai hal ini. Bahwa Duta Besar AS memiliki pembantu yang mengurus semua pakaiannya, termasuk membersihkan dan menyemir sepatu. Melalui itu badan intelijen bisa mengawasi pergerakan sang duta besar. Namun, alat tersebut juga bisa saja diketahui oleh tim dari duta besar. Peristiwa penyadapan terhadap duta besar Amerika ini bukan yang pertama.

 

Baca Juga :Sinopsis Film Broken Hearts Gallery (2020), Meresapi Patah Hati

 

Spycraft juga menjelaskan mengenai cara kerja alat pengawasan yang “ditempel” pada sang duta besar, yakni alat pendengar beresonansi rongga pasif. Alat ini diciptakan untuk KGB oleh Lev Theremin, seorang musisi sekaligus ilmuwan terkenal asal Rusia pada 1945. Menariknya, dalam alat pengawasan tersebut tidak ada komponen elektronik sama sekali.

Lalu bagaimana alat tersebut bekerja? Pemancar sinyal dari alat tersebut akan mengirim sinyal radio frekuensi tinggi ke sebuah antena yang ada di dalam resonator rongga pasif (alat penyadap). Gerald B. Richards, FBI Supervisory Special Agent [RET.], Former Chief Special Photographic Unit FBI Laboratory, mengatakan bahwa resonator rongga pasif pada dasarnya adalah sebuah alat yang hanya akan aktif pada gelombang radio atau gelombang pendek.

Pada 1945, duta besar Amerika Serikat untuk Rusia, Avril Herriman menerima sebuah hadiah istimewa. Ketika itu, anak pramuka dari Rusia mempresentasikan duta besar AS sebuah patung kayu berukir segel Amerika Serikat. Dengan perasaan bangga, Avril menggantung hadiah tersebut di dinding di belakang meja kerjanya.

Setiap kali Rusia mengeluarkan gelombang pendek, gelombang tersebut akan menembus dinding dari gedung lain sehingga ia akan berhasil menyalakan alat yang diam-diam disimpan di patung kayu tersebut. Setelah itu semua pembicaraan atau diskusi yang dilakukan di kantor Avril, bisa didengar pihak Rusia.

Lalu apakah pihak Amerika Serikat tidak menaruh curiga sama sekali? Mereka bahkan mengetahui hal ini secara tidak sengaja ketika membuka segelnya. Di sana ada piringan berukuran seperempat setebal setengah inchi yang merupakan mikrofonnya. Kemudian ada batang logam (antena) sepanjang 0,3 meter yang terhubung ke mikrofon dan terhubung lagi ke bagian belakang plakat elang.