Sinopsis Film Simply Black (2020), Melawan Rasisme Dengan Rasisme

Sambil merencanakan sebuah aksi protes, Jean-Pascal Zadi mengupas diskriminasi ras dan identitasnya sebagai pria kulit hitam Prancis dari kacamata satir.

Sinopsis Film Simply Black (2020), Melawan Rasisme Dengan Rasisme
jasa backlink pbn

Mengusung genre Comedy Film Simply Black  karya sutradara John Wax, Jean Pascal Zadi rilis 8 Juli 2020 Melalui Layanan streaming Netflix.

Film Simply Black dengan durasi 1jam 30 menit diproduksi oleh Gaumont dan di perankan oleh Jean Pascal Zadi, Caroline Anglade, dan Fary. Selain itu hal lain yang bisa dinikmati dari film ini adalah kehadiran beberapa public figure sebagai cameo, antara lain Omar Sy, Stefi Celma dan Ramzy Bedia. 

Jean-Pascal Zadi adalah seorang lelaki kulit hitam yang merasa bosan dengan perlakuan diskriminasi terhadap rasnya sehingga menginisiasi sebuah gerakan protes. Untuk mewujudkannya dia memerlukan dukungan dari orang-orang berkulit hitam yang lain. Sayang, alih-alih mendapat simpati, Jean lebih sering mengacaukannya.

 

Baca Juga :Sinopsis Film The Last Letter from Your Lover (2021)

 

Sinopsis Simply Black 

Seorang lelaki berkulit hitam terlihat sedang diwawancarai, tepatnya berbicara di depan kamera, mengenalkan diri sebagai Jean-Pascal berusia 38 tahun. Dia menyampaikan rasa geramnya karena kondisi warga kulit hitam di negaranya cukup parah. Jean mengatakan bahwa orang kulit hitam tidak direpresentasikan dalam banyak kesempatan, entah film, media atau politik.

Orang-orang menanggapinya dengan biasa tapi Jean tak bisa tinggal diam. Oleh karena itulah dia mengadakan mars protes besar pada 27 April untuk orang kulit hitam di Place de la République. Tanggal tersebut dipilih karena itu adalah hari perbudakan dihapuskan. Mars protes tersebut adalah milik kulit hitam dan untuk lelaki kulit hitam yang bermartabat. Begitu ujarnya.

Untuk mendukung aksinya dia akan menemui tokoh-tokoh kulit hitam. Jean juga mengatakan bahwa orang kulit putih harus paham bahwa era mascot dan slogan rasialis ala Banania sudah usai. Di tengah semangatnya menyampaikan itu, seorang wanita berkulit putih yang terlihat sebagai pasangannya, menyela pembicaraan dengan bertanya mengapa Jean tak mengeluarkan cucian?

Lelaki itu melanjutkan idenya dengan mengatakan bahwa dia akan menjadi Martin Luther King dan Nelson Mandela dari Perancis. Cerita berlanjut dengan sebuah scene ketika namanya diketikkan di mesin pencari. Mereka penasaran siapa Jean-Pascal Zadi? Seorang lelaki dalam video tampak bertanya, apakah sebenarnya Jean ini seseorang yang bodoh atau justru cerdas?

Terlihat layar menampilkan potongan gambar ketika Jean melakukan unjuk rasa, sendirian, di tengah keramaian. Lelaki itu berteriak mengenai pengembalian pusaka Afrika. Dalam media sosialnya, Jean juga terlihat mem-posting sebuah orasi menggunakan pakaian balet.

Singkatnya pada bagian ini ‘kegilaan’ Jean diperlihatkan. Hal yang menarik adalah, berbagai tanggapan, yang tidak semua bernada mendukung, justru disampaikan oleh sesama kulit hitam sendiri. Salah satu pembawa acara di televisi yang mengundangnya bertanya, apakah Jean sebenarnya seorang aktivis atau oportunis?

Cerita berlanjut ketika Jean-Pascal menemui Claudia Tagbo di ruang ganti sesaat setelah perempuan kulit hitam itu tampil di depan banyak penonton. Dia merupakan salah satu daftar orang kulit hitam yang akan Jean mintai dukungan untuk marsnya. Jean menilai Claudia punya akses dan koneksi di dunia showbiz, sehingga sangat diperlukan agar mars miliknya semakin cepat diketahui publik.

Claudia bersedia membantu dan siap mengangkat hal tersebut di media sosial miliknya. Dia terlihat sama semangatnya seperti Jean dengan memperlihatkan dukungan terhadap gerakan yang dilakukan saudara sesama kulit hitamnya itu. Menurut Claudia, orang kulit hitam harus bersatu, seperti yang terjadi di Amerika.

 

Baca Juga :Sinopsis Film Fatherhood, Kevin Hart Kehilangan Istrinya Dan Jadi Single Parent

 

Sayang, sejurus kemudian Jean merusak segalanya dengan mengkritik penampilan Claudia di atas panggung habis-habisan. Tanpa dia sadari hal tersebut menyinggung Claudia. Perempuan itu tak terima dengan pernyataan Jean dan balik menyerang dengan mengeluarkan kalimat celaan. Claudia benar-benar marah besar hingga menampar Jean dan mengusirnya dari ruangan.

Lelaki itu melanjutkan kegiatannya esok hari. Dia bertemu dengan seseorang yang terlihat sebagai produser atau sutradara. Di sana Jean diminta berperan sebagai lelaki berusia 30 tahun bernama Abdoulaye. Karakternya tersebut sudah terlibat sebagai pengedar sejak berusia 7 tahun. Ketika remaja, Abdoulaye diplot melakukan pemerkosaan terhadap seorang gadis kulit putih secara beramai-ramai.

Produser atau sutradara tersebut lanjut menjelaskan inti dari karakter Abdoulaye, yaitu seorang pengedar kulit hitam yang terlibat dalam pemerkosaan lalu masuk Islam untuk mencari kedamaian tapi justru jatuh cinta pada gadis yang dia perkosa. Setelah mendapat pengarahan tersebut, Jean mulai di-casting. 

Jean dan Camille (Caroline Anglade) beserta anak lelaki mereka terlihat duduk di taman menemani putranya bermain. Camille bertanya mengenai proses audisi yang dilaluinya. Jean menjawab bahwa perannya kali ini tumben bukan sebagai berandal atau preman Afrika Utara, melainkan lebih bernuansa, butuh perasaan dan emosi. Camille berpendapat bahwa situasi sepertinya sudah berubah.

Untuk melancarkan mars protesnya nanti Jean perlu mendapat izin. Dia pun pergi ke kantor pemerintahan terkait menyerahkan dokumen yang dibutuhkan. Jean tahu bahwa mereka kemungkinan akan mempersulitnya sehingga dia juga memutuskan pergi ke balai kota untuk mempercepat proses perizinan.  

Keinginannya tak semulus rencana karena ternyata untuk dapat masuk ke balai kota, apalagi menemui Walikota Paris, seseorang harus buat janji lebih dulu, tak bisa sembarangan. Jean bersikeras hingga membuat sebuah orasi di depan balai kota mengenai kulit hitam dan harapan. Lelaki itu ingin bertemu Anne Hidalgo.  

Tak lama, sekelompok tenaga pengamanan menghampiri Jean dan memintanya berhenti. Lagi-lagi Jean merasa bahwa itu bentuk diskriminasi. Sulit dikendalikan, para petugas tersebut melumpuhkan Jean dengan tindakan kekerasan. Melihat kejadian tersebut banyak orang di sana mengabadikannya.

Jean justru melihat ini sebagai salah satu ‘panggung’, pembuktian bahwa warga kulit hitam memang diperlakukan tak adil dan kasar. Lelaki itu lalu digelandang ke kantor polisi. Tak lama, Jean sudah ada di rumahnya. Dia melihat dirinya ada di televisi dan tampak senang, sementara Camille berpendapat sebaliknya.

Dalam acara tersebut duduk juga seorang public figure bernama Fary, yang rupanya sedang sama-sama terkena kontroversi. Mereka sedang membahas video Jean dikasari polisi yang viral. Fary bahkan menyampaikan keinginannya untuk bertemu Jean dan membantu perjuangannya. Lantas apakah niat Jean dapat terwujud? Bisakah dengan bantuan Fary semua jadi lebih mudah?